Ribuan Umat Muslim Hadiri Haul ke-24 Syaikh Abdullah Awad Abdun di Pesantren Daruttauhid Malang
MALANG — Suasana khidmat menyelimuti Kota Malang pada Ahad pagi (2/8). Ribuan jamaah yang terdiri dari alumni, wali santri, serta kaum muslimin dari berbagai penjuru Indonesia memadati Pondok Pesantren Daruttauhid untuk menghadiri peringatan Haul ke-24 Syaikh Abdullah Awad Abdun.
Rangkaian majelis dimulai sejak pagi hingga menjelang siang dengan lantunan selawat yang digelorakan oleh grup Anwarul Musthofa milik pesantren setempat. Suasana spiritual kian terasa saat pembacaan surat Yasin dan Tahlil dipimpin langsung oleh Ustadz Hadi bin Alwi Alkaaf dan Ustadz Musthofa Alaydrus, diikuti pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an oleh Ustadz Fakhrurrozi sebagai pembuka acara utama.
Pengasuh Pondok Pesantren Daruttauhid, KH. Husain bin Ustadz Abdullah Awad Abdun, hadir mewakili Sohibul Bait untuk menyapa dan menyampaikan sambutan hangat kepada para tamu undangan. Pembacaan manaqib (rekam jejak sejarah) Sohibul Haul kemudian dibawakan oleh Sayid Abdillah Al-Haddar, yang menguraikan kegigihan dan dedikasi almarhum Syaikh Abdullah Awad Abdun dalam memperjuangkan dakwah Islam semasa hidupnya.
Pesan Khusus dari Kota Madinah
Untuk semakin menyegarkan suasana majelis, acara dilanjutkan dengan pembacaan qasidah yang dibawakan oleh Ustadz Hasyim, kemudian disusul pula oleh Prof. Dr. Sayid Aqil bin Husain Al-Munawwar yang turut melantunkan qasidah.
Sesi sambutan kemudian diwarnai momen istimewa. Selain pesan kebersamaan yang disampaikan oleh Ustadz Bishri Soleh selaku perwakilan alumni, para jamaah menyimak pesan khusus (taushiyah) secara daring dari kota suci Madinah oleh ulama terkemuka, Abuya Sayid Ahmad bin Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani.
Pentingnya Sanad Keilmuan dan Tawaduk
Memasuki acara inti (mauidzah hasanah), jamaah mendapatkan siraman rohani dari dua ulama besar:
1. Habib Umar bin Ahmad Al-Muthahhar (Semarang)
Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya bagi setiap muslim untuk konsisten menuntut ilmu, menjaga sifat tawadu (rendah hati), serta senantiasa meneladani jejak langkah para ulama yang lurus (akhlakul karimah).
2. Prof. Dr. Sayid Aqil bin Husain Al-Munawwar
Beliau menggarisbawahi keharusan para penuntut ilmu untuk memiliki sanad keilmuan (silsilah guru) yang jelas dan bersambung. "Belajar agama tidak bisa dilakukan secara otodidak tanpa bimbingan ulama yang kompeten agar tidak tersesat," tegas beliau.
Lebih lanjut, Prof. Sayid Aqil mengingatkan bahwa hubungan batin serta rasa hormat (khidmat) seorang murid kepada gurunya merupakan kunci utama datangnya keberkahan ilmu yang tidak dapat diukur dengan materi. Beliau mengutip prinsip penting bahwa seorang alim sejati adalah mereka yang tetap merasa menjadi tholib (penuntut ilmu) sepanjang hayatnya, sebab merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki adalah awal dari kebodohan.
Doa Penutup dari Para Ulama Manca Negara dan Majelis
Mendekati puncaknya, suasana majelis kian hening dan penuh kekhusyukan saat memperdengarkan rekaman suara doa dari dua ulama, yaitu Habib Umar bin Hafidz serta Habib Muhammad Al-Habsyi dari Seiwun, Yaman.
Setelah itu, doa penutup secara langsung memimpin jalannya majelis yang dibawakan oleh Ustadz Sholeh bin Ahmad Alaydrus dan Ustadz Hadi bin Alwi Alkaaf. Rangkaian peringatan haul ke-24 ini kemudian diakhiri dengan sesi ramah tamah serta silaturahmi antarjamaah.
*Laporan / Kontributor: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil*


Tidak ada komentar:
Posting Komentar