Rombongan Ziarah Sya’ban Daruttauhid Malang Lanjutkan Silaturahmi ke Habib Syech di Solo
Solo, 28 Januari 2026 — Rombongan Ziarah Sya’ban Pondok Pesantren Daruttauhid Malang melanjutkan rangkaian kegiatan dengan bersilaturahmi ke kediaman sekaligus pusat dakwah Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di kawasan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Rabu (28/1). Kunjungan ini menjadi bagian penting dari napak tilas spiritual santri dalam mengenal tokoh-tokoh besar dakwah Islam Nusantara.
Dalam suasana penuh kehangatan dan kekhidmatan, rombongan disambut langsung oleh Habib Syech beserta keluarga dan jamaah Majelis Ahbaabul Musthofa. Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang pembelajaran langsung tentang dakwah shalawat yang sejuk, inklusif, dan mampu merangkul berbagai lapisan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, salah satu santri Daruttauhid Malang, Syakira Maliki, menyampaikan pertanyaan sederhana namun mendalam tentang “obat hati yang sumpek”. Menanggapi hal itu, Habib Syech memberikan nasihat penuh hikmah dengan mengajak para santri kembali menenangkan hati melalui jalan-jalan spiritual yang diajarkan para ulama salaf.
Habib Syech kemudian menyinggung syi’ir legendaris “Tombo Ati”, warisan Sunan Bonang yang kerap beliau lantunkan dalam majelis shalawat. Beliau menjelaskan bahwa kegelisahan hati dapat diobati dengan lima perkara utama, yakni membaca Al-Qur’an dengan memahami maknanya, menjaga sholat malam, berkumpul dengan orang-orang sholeh, melatih diri dengan puasa, serta memperbanyak dzikir di waktu malam.
Pesan tersebut disampaikan dengan gaya khas Habib Syech yang tenang namun menyentuh, membuat suasana pertemuan terasa sangat mendalam. Para santri tampak khusyuk menyimak, menyadari bahwa ketenangan jiwa merupakan fondasi penting dalam menuntut ilmu dan menjalani kehidupan pesantren.
Silaturahmi ini sekaligus mempertegas kesinambungan dakwah para habaib di Kota Solo, khususnya antara Habib Syech dan keluarga besar Masjid Riyadh. Bagi rombongan Ziarah Sya’ban Daruttauhid Malang, pertemuan ini menjadi pengalaman berharga yang memperkaya perjalanan spiritual, sekaligus menguatkan nilai cinta Nabi, akhlak, dan ketenangan hati sebagai bekal utama dalam pendidikan dan kehidupan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar